Dialog Kebangsaan Digelar di Ambon, Wattimena: Keberagaman Ambon Harus Jadi Kekuatan Pembangunan
- Administrator
- Selasa, 11 Agustus 2026 09:28
- 6 Lihat
- PEMERINTAHAN
Ambon, CM — Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan daerah. Pesan tersebut disampaikan saat dirinya membuka Dialog Kebangsaan bertema “Bacarita Kota Ambon Voor Ambon Pung Bae” yang digagas Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Selasa (11/8/2026).
Dialog yang berlangsung di Santika Hotel Ambon itu mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, DPRD, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para raja dan kepala desa, hingga mahasiswa.
Turut hadir Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette, Ketua DPRD Kota Ambon Mourits Tamaela, Ketua TP-PKK Kota Ambon Lisa Wattimena, jajaran Forkopimda, Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease Kombes Pol Andreas S. Nugroho, serta sejumlah undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Wattimena mengibaratkan proses pemerintahan dan pembangunan di Kota Ambon seperti sebuah pertunjukan orkestra. Setiap pihak, menurutnya, mempunyai tugas dan posisi masing-masing yang harus dijalankan dengan baik agar seluruh proses dapat berjalan selaras.
Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak akan menghasilkan capaian maksimal apabila masing-masing pihak berjalan sendiri dan lebih mengedepankan kepentingan kelompok maupun pribadi.
Menurut Wattimena, koordinasi dan pembagian peran menjadi hal penting untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang efektif.
“Setiap unsur harus mengetahui tugas dan tanggung jawabnya. Kalau semuanya ingin berjalan sendiri, maka tidak akan ada harmoni. Karena itu, diperlukan kerja bersama,” ujarnya.
Wali Kota juga mengapresiasi langkah Polresta Ambon yang menghadirkan forum dialog tersebut. Ia menilai kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk membangun komunikasi antarelemen sekaligus menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat Kota Ambon yang memiliki keberagaman suku, agama dan budaya.
Ia menyebut kemajemukan Ambon sebagai modal sosial yang harus dirawat. Dengan sikap saling menghormati dan kerja sama, keberagaman tersebut diyakini dapat menjadi kekuatan dalam mendukung pembangunan daerah.
“Keberagaman yang kita miliki merupakan kekuatan. Karena itu, harus dikelola dengan kebersamaan dan saling menghargai,” katanya.
Dalam dialog tersebut, Wattimena turut menyinggung derasnya perkembangan informasi di era digital. Ia mengingatkan masyarakat, khususnya mahasiswa dan generasi muda, agar tetap memiliki sikap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah maupun persoalan penegakan hukum.
Namun, kritik yang disampaikan harus berlandaskan etika, fakta dan data. Menurutnya, kebebasan berpendapat merupakan bagian dari demokrasi, tetapi tidak boleh digunakan untuk menyerang atau menjatuhkan pribadi seseorang.
Ia mempersilakan masyarakat memberikan masukan apabila menemukan kebijakan pemerintah yang dinilai belum berjalan optimal. Kendati demikian, penyampaiannya harus dilakukan secara santun dan bertanggung jawab.
“Jika ada kebijakan atau kinerja pemerintah yang belum sesuai harapan, silakan dikritik dan diingatkan. Tetapi harus disampaikan dengan cara yang baik, bukan dengan menghina atau mencaci,” tegasnya.
Wattimena juga meminta masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan terhadap suatu persoalan hanya berdasarkan informasi yang belum teruji kebenarannya. Menurutnya, data dan fakta harus menjadi dasar sebelum sebuah tuduhan disampaikan kepada publik.
Ia menambahkan, setiap dugaan pelanggaran sebaiknya dilaporkan dengan bukti yang jelas sehingga dapat diproses melalui mekanisme yang berlaku.
“Kalau ada dugaan kesalahan, sampaikan berdasarkan bukti. Jangan sampai orang yang belum terbukti bersalah sudah dihakimi di ruang publik. Jika memang terbukti salah, tentu ada proses hukum, tetapi jangan sampai orang yang tidak bersalah menjadi korban,” jelasnya.
Menjelang usia ke-449 tahun Kota Ambon, Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk melihat kembali perjalanan sejarah Maluku sebagai sumber motivasi dalam membangun daerah.
Ia menilai generasi saat ini mempunyai kesempatan untuk memberikan kontribusi dan meninggalkan warisan positif bagi generasi mendatang.
Menurutnya, sejarah masa lalu tidak hanya menjadi catatan, tetapi juga dapat menjadi pelajaran untuk menentukan langkah pembangunan ke depan.
“Masa lalu harus menjadi sumber inspirasi. Sementara hari ini adalah kesempatan bagi kita untuk menciptakan sejarah yang baik. Jangan sampai tindakan kita justru membuat kita tercatat sebagai beban dalam sejarah,” ungkapnya.
Selain itu, Wattimena meminta para raja dan kepala desa dapat menjalankan kewenangan serta tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh. Ia menilai peran pemerintah di tingkat desa dan negeri sangat penting, termasuk dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menciptakan kehidupan sosial yang rukun.
Mengakhiri sambutannya, Wattimena kembali menyampaikan penghargaan kepada Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease beserta seluruh jajaran atas terselenggaranya Dialog Kebangsaan.
Ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan kesepahaman dan memperkuat komitmen seluruh pihak untuk menjaga persatuan serta bersama-sama membangun Kota Ambon.
Dialog Kebangsaan “Bacarita Kota Ambon Voor Ambon Pung Bae” kemudian dibuka secara resmi oleh Wali Kota Ambon bersama Sekretaris Kota, Ketua DPRD dan sejumlah pemangku kepentingan melalui prosesi pemukulan tifa.(CM/JP)